Untukdiketahui, Syekh Fadhil merupakan cucu ke-25 Syekh Abdul Qadir Al-Jilani yang lahir pada 1954 di Desa Jimzarok, Provinsi Qurtalan Timur, Negara Turki. Beliau tinggai di Istanbul, ibu kota Turki. Semasa kecilnya, beliau diasuh oleh kakeknya Syekh Muhammad Shiddiq Al-Jailani dan ayahanya Syekh Muhammad Faiq al-Jailani al-Hasani. MaulanaSyekh Fadhil Al Jailani mebahas kajian "Sholawat Basyairal Khairaat" di Pondok Pesantren Tahfidzul Qur'an Arraudhah, Zawiyah Arraudhah Ihsan Foundation, Jakarta, Selasa (3/4/18). Selain memberikan ijazah dan penjelasan Sholawat Basyairal Khairaat, Syekh Fadhil juga menyematkan Khotamun Nabawi kepada Khodimu Zawiyah Arraudhah, Muhammad Danial Nafis. TagArchives: Syekh Fadhil Al Jailani. Ponpes Raudhoh al-Hikam Cibinong, Bogor - Safari Dakwah. Alhamdulillahi Rabbil 'alamin. Sabtu, 7 Desember 2019/10 Rabi'ul Akhir 1441 H Maulana Syekh Syarif Prof. Dr. Muhammad Fadhil Al Jilani hafidzahullah tiba di Ponpes Raudhoh al-Hikam Cibinong, Bogor dalam rangkaian agenda safari dakwahnya. Di TAFSIRAL-JAILANI (6 Jilid) Penulis: Syekh Abdul Qadir al-Jailani Tahqiq: Syekh Prof. Dr. Muhammad Fadhil Jailani al-Hasani Penerbit Qaf Ukuran buku: 17 × 24,5 cm Spesifikasi isi: Jilid 1: 576 halaman QPP (dua warna) Jilid 2: 576 halaman QPP (dua warna) Jilid 3: 564 halaman QPP (dua warna) Jilid 4: 492 halaman QPP (dua warna) Jakarta Maulana Assayid Assyarif Syeikh Prof. Dr. Muhammad Fadhil Al-Jilani Al-Hasani lahir pada 1 April 1954 M di Desa Jimzaraq, Kurtalan, wilayah Is'ird, sebelah Timur Turki yang terkenal dengan kawasan ulama. Beliau adalah cicit dari generasi ke-25 Sulthanul Auliya Syekh Abdul Qadir al-Jailani. Sejak usia 2 tahun oleh kakeknya, al-Quthub al-Alim Syekh Muhammad Shiddiq al Dankemudian ditemukan oleh cucu Syekh Abdul Qodir al-Jailani yang ke-25, yaitu Syekh Fadhil al-Jailani al-Hasani al-jimazraq di perpustakaan Vatikan. Dalam kitab Tafsir al-Jailani, tidak ditemukan alasan yang jelas kenapa Syekh Abdul Qodir al-Jailani mengarang kitab tafsir tersebut. YWBGG. Beirut, NU Online Pengurus Cabang Istimewa Nahdhatul Ulama PCINU Lebanon kedatangan Syekh Muhammad Fadhil Al-Jailani yang sedang dalam safari dakwahnya di Lebanon. Ulama terkemuka asal Turki yang memiliki peran luar biasa dalam mengumpulkan jejak peninggalan kakeknya, Syekh Abdul Qadir Al-Jailani yang terkenal sebagai Sulthonul Aulia. Ba'da shalat Jumat 10/1, bertempat di Masjid Abdun Naser nahdiyyin di Lebanon menggelar muhadharah dengan mengangkat tema Manhaj Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalam tafsir dan tasawufnya. "Tema ini didasari akan rasa ingin lebih tahu mengenai Syekh Abdul Qadir Al-Jailani yang terkenal dalam bidang tasawwufnya, namun banyak yang belum mengetahui bahwa Syekh Abdul Qadir juga ahli di bidang tafsir," ujar Ketua PCINU Lebanon H Hamid Hadi. Dalam muhadharahnya, Syekh Fadhil Al-Jaelani memulai dengan sirah Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, di antaranya menjelaskan bahwa Syekh Abdul Qadir Al-Jailani tidak pernah tidur kecuali dalam keadaan suci Wudhu. "Syekh Abdul Qadir Al-Jailani juga seringkali mengkhatamkan Al-Qur'an dalam shalat malamnya hingga menjelang subuh," jelasnya. Syekh Muhammad Fadhil Al-Jailani memaparkan berbagai karangan-karangan dari sang kakek. Dalam bidang tasawwuf ada kitab al-Fathur al-Robbani dan dalam bidang tafsir terdapat kitab tafsir al-Jailani yang terdiri dari 6 jilid. Sekh Muhammad juga menjelaskan proses pengumpulan manuskrip peninggalan kakeknya itu membutuhkan waktu yang cukup lama serta perjalanan ke banyak negara untuk bisa mendapatkan jejak-jejak peninggalan Syekh Abdul Qadir Al-Jaelani. "Meski memerlukan waktu yang cukup lama, akhirnya manuskrip peninggalan kakek bisa dikumpulkan," tegasnya. Syekh Muhammad Fadhil Al-Jailani Al-Jailani juga menjelaskan tentang kebanggaannya terhadap Indonesia serta menceritakan berbagai pengalamannya saat mengunjungi Indonesia. "Indonesia menjadi salah satu negara yang sering saya kunjungi," ungkapnya. Kepada para nahdiyyin yang hadir, Syekh Muhammad Fadhil Al-Jailani memberikan pesan agar selalu istiqamah dalam jalan ilmu. Agenda tersebut diakhiri dengan pemberian ijazah ammah untuk semua kitab-kitab Syekh Abdul Qadir Al-Jailani serta semua dzikir-dzikir dan shalawat munajat oleh Syekh Muhammad Fadhil Al-Jailani serta pembagian kitab yang berisi dzikir-dzikir Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dan ditutup dengan do’a. Dalam rilis yang diterima NU Online Ahad 12/1, Ketua PCINU Lebanon mengatakan, kegiatan muhadharah merupakan kegiatan kajian keilmuan dengan menghadirkan narasumber yang berkompeten sesuai bidang ilmunya untuk warga NU yang berada di Lebanon. "Ini adalah sebagai upaya menambah ilmu pengetahuan dengan menghadirkan narasumber yang ahli di bidangnya khususnya untuk pelajar Indonesia yang sedang menuntut ilmu di sini," pungkasnya. Kontributor Qomarul Adib Editor Abdul Muiz Syekh Abdul Qodir al-Jailani adalah sufi besar Islam yang lahir pada tahun 471 H, di daerah Jilan, Kurdistan Selatan. Beliau juga merupakan pendiri Thoriqoh Qodiriyyah, yang pengikutnya tersebar diberbagai belahan dunia Islam. Syekh Abdul Qodir al-Jailani sendiri, merupakan sosok ulama tasawuf yang mempunyai banyak gelar, salah satunya adalah wali Syekh Abdul Qodir al-Jailani tidak asing bagi masyarakat Islam di Indonesia, khususnya Ahlussunnah wal Jama’ah. Salah satu tradisi yang sering dilakukan oleh masyarakat Islam aswaja adalah manaqiban. Yaitu membaca manaqib atau riwayat hidup Syekh Abdul Qodir sosok ulama besar Islam, Syekh Abdul Qodir al-Jailani mempunyai banyak karya di berbagai bidang, salah satunya adalah tafsir. Hanya saja, karya-karya Syekh Abdul Qodir al-Jailani tidak begitu banyak yang Abdul Qodir al-Jailani adalah satu dari para ulama tasawuf, yang mempunyai karya dalam bidang tafsir Tafsir al-Jailani. Banyak karya-karya Syekh Abdul Qodir al-Jailani, yang hilang atau tidak diketahui keberadaannya, dan salah satunya yang pernah hilang adalah kitab Tafsir al-Jailani, menurut para ahli sejarah dan pengkaji tasawuf pernah hilang selama 800 tahun. Dan kemudian ditemukan oleh cucu Syekh Abdul Qodir al-Jailani yang ke-25, yaitu Syekh Fadhil al-Jailani al-Hasani al-jimazraq di perpustakaan kitab Tafsir al-Jailani, tidak ditemukan alasan yang jelas kenapa Syekh Abdul Qodir al-Jailani mengarang kitab tafsir tersebut. Tetapi berdasarkan keterangan yang ada, Syekh Abdul Qodir al-Jailani menulis kitab-kitabnya karena adanya kekecewaan dengan keadaan masa ketika beliau hidup. Karena pada masa itu, banyak kemunafikan dan kesenangan duniawi yang merajalela, sehingga beliau hijrah dan mengasingkan diri, serta gencar memberikan nasihat-nasihat tasawuf. Hal ini yang, mungkin, menjadi latar belakang beliau menulis kitab-kitabnya termasuk Tafsir al-Jailani merupakan kitab tafsir yang menggunakan bentuk al-Iqtirani, yaitu perpaduan antara Tafsir bi al-Matsur dan Tafsir bi al-Ra’yi. Syekh Abdul Qodir al-Jailani memadukan antara riwayat yang kuat dan shahih, dengan hasil ra’yi yang dalam mengemukakan riwayat, baik asbabun nuzul atau hadis yang mendukung, Syekh Abdul Qodir al-Jailani tidak menyebutkan sanad yang cara menjelaskan atau menafsiri ayat-ayat Al-Qur’an, Syekh Abdul Qodir al-Jailani menggunakan metode bayani, yaitu penafsiran dengan cara menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an, hanya dengan memberikan keterangan secara diskriptif, tanpa membandingkan riwayat dan memberikan pentarjihan Abdul Qodir al-Jailani juga menggunakan metode ijmaly. Metode ijmaly sendiri merupakan sebuah metode yang menafsirkan ayat Al-Quran secara global, tidak mendalam dan panjang al-Jailani adalah satu di antara banyak kitab tafsir yang bercorak sufistik. Corak sufistik yang ada dalam Tafsir al-Jailani, tidak bisa dilepaskan dari corak pemikiran pengarangnya yang merupakan salah satu ulama besar dalam dunia tasawuf. Sehingga dalam mengarang kitab tafsir, maka kemungkinan besar akan berimplikasi terhadap penggunaan corak tafsir isyari sufi.Corak tasawuf yang terdapat dalam kitab Tafsir al-Jailani sangat terlihat jelas. Bahkan hampir semua ayat yang ditafsirkan, selalu dihubungkan dengan ketauhidan, yang menjadi pokok dari ajaran tasawuf. Selain itu, Syekh Abdul Qodir al-Jailani juga menuliskan lampiran munajat dengan berisi Asma’ul Husna dan sya’ir-sya’ir sufi Qosidah al-Khomriyah, yang berada di jilid akhir dari kitab Tafsir A’lam.